Ronda

Setiap hari kamis, seperti biasanya saya menyiapkan segala keperluan untuk berjaga malam di wilayah kampung kami. Sesuai jadwal yang sudah disepakati bersama warga. Kegiatan ronda bagi saya layaknya sebuah ritual tersendiri. Saya menganggapnya sebuah ritual, dikarenakan saya dapat jatah ronda pada malam jum’at. Entah mengapa saya katakan ritual, ataukah karena saya sering terdoktrin oleh tayangan beberapa stasiun televisi. Di beberapa stasiun tv, jika malam jum’at pasti ada tayangan yang menjurus ke dunia mistis bin horor. Sepertinya otak saya sudah tersusupi dengan suksesnya oleh beberapa acara mistis di stasiun tv tersebut. Sebelum saya melangkahkan kaki keluar rumah untuk kegiatan ronda tersebut, saya selalu membaca doa supaya diberi keselamatan dan dijauhkan dari genitnya makhluk-makhluk astral yang selalu datang di setiap malam jum’at seperti yang ada di layar kaca.
Petugas ronda di kampung kami dibagi menjadi beberapa kelompok, saya sendiri tergabung dengan pak Harry, seorang pengusaha sukses dan juga dua keponakannya. Kegiatan ronda kami, tidak semata-mata hanya menjaga keamanan kampung, tetapi kami diwajibkan mengambil jimpitan (berupa beras) yang diletakkan di depan setiap rumah. Hal tersebut dilakukan supaya petugas ronda benar-benar mendatangi setiap rumah di kampung ini. Sedangkan manfaat dari jimpitan berupa beras tersebut, akan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tentunya jika jumlahnya sudah layak dan dirasa mencukupi.
Malam ini saya mempersiapkan diri dengan membawa peralatan ronda, terutama senter, dan yang tidak kalah penting saya membawa senjata untuk berjaga-jaga. Terus terang saja meskipun otak saya sudah sering tercuci oleh penayangan hantu di tv, tetapi saya tidak begitu khawatir terhadap makhluk astral yang katanya menakutkan tersebut, karena sampai saat ini saya memang belum pernah berjumpa dengannya. Yang lebih saya khawatirkan adalah orang-orang yang akan berbuat kriminal (pencuri), biasanya mereka selalu mempersenjatai diri, saat mereka ketahuan warga, mereka tidak segan-segan akan melukai kita.
Entah mengapa, sekitar jam delapan malam ini saya sangat mengantuk. Saya pun rebahan di kasur dan berharap nanti akan terbangun sekitar jam sebelas malam untuk segera bergabung di pos ronda dengan kawan yang lain. Ternyata perkiraan saya meleset, saya baru terbangun jam dua belas malam. Saya segera beranjak keluar rumah, karena merasa sudah terlambat, saya langsung menuju ke rumah warga yang berada paling ujung dari kampung kami, yang kebetulan dekat dengan rumah saya, dengan tujuan mengambil jimpitan beras. Malam ini terasa dingin dan sepi sekali, hanya terdengar langkah kaki saya sendiri saat menuju rumah tersebut. Sesampainya di depan rumah, saya segera meraih tempat jimpitan beras yang ada di dekat pintu. Tetapi jimpitan tersebut kosong. Saya sempat berfikir, mungkin yang punya rumah lupa meletakkan berasnya di tempat tersebut. Lalu saya melangkah ke rumah sebelahnya, tetapi keadaannya juga sama, beras yang seharusnya ada di tempat jimpitan juga kosong. Saya melanjutkan ke rumah-rumah yang lain sambil menuju ke pos ronda, namun setiap rumah yang saya datangi, semua jimpitan berasnya kosong. Kali ini saya menduga, beras tersebut kemungkinan sudah diambil oleh pak Harry atau keponakannya.
Malam semakin larut, sesekali saya mendengar hembusan angin yang lumayan dingin menerpa tubuh. Hanya beberapa meter lagi saya mendekati pos ronda. Samar-samar saya mencium aroma bunga melati, pikiran saya pun kembali pada acara mistis di tv, yang kontan membuat bulu kuduk saya berdiri. Tidak seperti biasanya kali ini suasana di pos ronda tersebut sepi. Sampai di pos ronda saya dapati pintunya terbuka, dan ada seseorang yang berkerudung sarung di dalam. Setelah saya amati ternyata pak Harry, yang nampak kedinginan dan seperti sedang tidak enak badan. Lega rasanya ada kawan ronda, rasa was-was saya hilang seketika. Di samping tempat duduk pak Harry nampak plastik hitam berisi beras. Pak Harry hanya sendiri saat itu, dua keponakanya ternyata tidak ikut bersamanya. Kemudian saya melangkah masuk ke dalam pos ronda.
“Maaf pak saya terlambat, bapak tadi yang mengambil jimpitan beras di rumah-rumah warga ya,” sapa saya sekaligus bertanya pada pak Harry. Pak Harry mengangguk sambil merapatkan sarung ke tubuhnya. Karena saya melihat pak Harry yang sepertinya sedang tidak enak badan, maka saya menawarkan diri untuk jaga sendiri dan mempersilahkan pak Harry untuk segera istirahat di rumah. Hitung-hitung menebus keterlambatan saya. Akhirnya sepertiga malam saya berjaga sendiri sampai menjelang subuh. Begitu mendengar azan subuh, saya bergegas pulang dan tidak lupa mengunci pintu pos ronda. Sesampainya di rumah saya segera menunaikan salat subuh. Setelah salat, tak terasa mata ini lelah yang membuat saya tertidur.
Saya bangun agak kesiangan sekitar jam tujuh pagi, efek dari ronda malam. Segera saya bergegas untuk mandi pagi. Tetapi saya mendapati sabun di kamar mandi sudah habis. Dengan mata yang masih terasa malas dibuka, saya pergi ke warung untuk membeli sabun mandi. Di tengah perjalanan, saya lihat di depan rumah pak Harry banyak warga yang sedang berkumpul, mereka sedang mendirikan tenda. Karena penasaran, saya bertanya ke pak RT yang sedang memberi instruksi pemasangan tenda kepada warganya.
“Ada apa ini Pak?” tanya saya kepada pak RT.
“Tadi sekitar jam sebelas malam, saat pak Harry pulang dari tempat usahanya dengan mengendarai sepeda motor, dia dilanggar sebuah truk,” kata pak RT.
“Beruntung ada orang yang menolong dan membawanya ke rumah sakit, tapi sekitar jam dua belas malam nyawanya tidak tertolong, pagi ini jenazahnya diantar ke rumah duka,” lanjutnya.
“Lho ... jadi pak, yang ronda tadi malam itu ...” tak sanggup saya melanjutkannya, lalu saya segera beranjak pergi.

Komentar